Friday, March 21

Keberuntungan.



Mendadak pertanyaan konyol itu melintasi benak saya,
apakah saya ini termasuk orang yang dinaungi keberuntungan besar?

Ini konyol.
Mengapa saya harus mempertanyakan keberuntungan?
Mengapa saya berharap dijatuhi hoki?
Mengapa tidak berusaha lebih keras agar keberhasilan menghampiri

Saya punya dua kunci yang sangat mirip
Satunya kunci gerbang kost, satunya lagi kunci kamar
Herannya, saya selalu salah memasukkan kunci ke lubang kunci dikesempatan pertama
Saya baru bisa berhasil membuka pintu dikesempatan selanjutnya
Berkali-kali hal ini terjadi

Sampai adik saya memperingatkan untuk memberi tanda di salah satu kunci
Saya masih bandel, ingin membuktikan peruntungan saya
Sukses dikesempatan pertama
Pernah juga saya iseng ikutan kuis-kuis online di jejaring sosial, yang ini juga ga pernah menang. Hih

Kemarin, saat di toko buku murah yang suka saya kunjungi, 
saya merasa disentil melihat buku berjudul cara memenangkan kuis online

Keberhasilan butuh usaha

Maafkan saya Tuhan
Mata saya dibutakan keberuntungan orang lain 
Saya akan lebih gigih lagi mengejar keberhasilan

Depok, 21 Maret 2014
Larut malam bersama pecundang buta yang tercerahkan 
PS: Hari  ini kuncinya sudah dikasih tanda pembeda. Ini usaha agar sukses dikesempatan pertama? IYA!!!

Thursday, March 20

Roller Coaster



Beberapa hari lalu tak sengaja menemukan catatan-catatan lama saat membersihkan folder komputer. Catatan lama yang menggelikan saat dibaca kembali. Betapa waktu itu persoalan-persoalan yang datang dalam hidup membuat saya begitu lemah, cengeng dan rapuh. Ujungnya ya saya curhat dengan menuliskannya.

Satu hal yang terlintas dipikiran saya. Hidup itu berotasi.
Berganti dari satu masalah ke masalah lainnya.
Dari patah hati, bahagia, patah hati lagi dan seterusnya.

Seringkali saya tidak percaya saya akan melewatinya. Sesering itu pula saya ternganga.
Saya sudah berada di pusaran cerita lainya.

Maka hari catatan ini pun saya tuliskan.
Siapa tahu di tahun-tahun yang akan datang saya akan terpingkal lagi membacanya
Sedikit cerita, saya masih patah hati karena gagal di tahap ketiga rekruitmen Danone.
Tapi saya percaya cerita lain sudah menunggu saya.
Saya akan berusaha menemukannya.

Depok 20 Maret 2014
Siang yang terik untuk mengatur ulang mimpi




Sunday, February 23

Rejection

Rejection is a challenge

Saya harus kuat.
Udah itu aja

Monday, February 17

Menggilaimu (buku)



Beberapa hari belakangan saya dan adik saya mulai dipusingkan dengan buku.
Ya...buku.
Terlalu banyak tumpukan buku di kamar mungil yang kami huni berdua ini.
Bagaimana tidak, setiap pergi jalan keluar, saya maupun adik saya akan pulang dengan membawa paling tidak satu buku.
Biasanya, setiap yang main ke kamar saya akan heran dan bertanya,
“selera bukumu apa sih sebenarnya?”

Saya juga bingung
Berjam-jam bisa saya habiskan karena tenggelam dalam kisah-kisah penunggang naga.
Kisah tetralogi Eragon, Eldest, Brising’r dan Inheritance selalu sukses membuat saya ternganga.
Koleksi kisah naga-nagaan serupa mulai dari Seraphina, Shannara, Eon, Eona, dan Heart of Dragonnya Gena Showalter juga menambah tumpukan di kamar ini.

Ah, apa iya saya penyuka kisah naga-nagaan?
Serial the Tunnels, Winnetou, karangan Dan Brown, JK Rowling, koleksi Sherlock Holmes, dan karangan Agatha Christie juga saya suka.
Untuk semua cerita Agatha yang pernah saya baca, saya paling suka dengan si perawan tua Jane Marple sebagai tokoh utama dibandingkan Hercule Poirot yang termasyhur itu.

Semuanya kisah fiksi?
Tidak juga, beberapa kisah sejarah bangsa ini juga pernah membius saya. Saya masih ingat sensasi takjub setelah menamatkan buku tentang perempuan-perempuan di belakang Bung Karno.
Saya juga menyukai sastra-sastra lama, kemarin adik saya sempat membeli karya Ahmad Tohari dan Wisran Hadi, aih ini menyenangkan.
Saya juga menyukai Kisah Mahabrata, kisah yang paling mengena tentang kepedihan Dewi Amba yang direbut dari Raja Salwa oleh Bhisma sebagai hadiah untuk adiknya, Wicitrawirya.
Dewi Amba yang terlanjur memberi hati kepada Raja Salwa dan menolak menjadi istri Wicitrawirya. Bhisma yang akhirnya melepaskan Amba untuk kembali ke Salwa.
Salwa yang menolak Amba karena merasa telah dikalahkan Bhisma.
Wicitrawirya yang kemudian juga menolak Amba,
dan Amba yang memaksa Bhisma untuk menikahinya tapi Bhisma terikat sumpah suci untuk tidak menikah, benar-benar membuat saya terperangah.

Jadi kalau ada yang bertanya soal selera, saya hanya bisa geleng kepala.
Saya menggilai semuanya

Saya gila buku?

Ah...saya lebih menggilaimu

Sunday, February 2

Something in Between



Sesuatu di dunia ini diciptakan berpasangan, antagonis protagonis, hitam putih, chaos order, laughs tears, suka benci, begitu sih yang saya pelajari waktu SD dahulu.
Setelah menjalani  1/5 abad kehidupan, ternyata perkara berpasangan tadi lebih kompleks dari yang saya bayangkan di waktu kecil.
Banyak hal “antara” dalam perkara tersebut.
Sederhananya, hitam putih, ada abu-abu di antara keduanya
Lelaki perempuan. Ada juga. Kadang saya suka papasan kok di jalanan.
Suka dan benci,
Adakah fase pertengahan diantara keduanya?
Terkadang, bagi saya sih ada. Terkadang loh ya..
Kasih nama saja apatis.

Seperti saat bertemu mas-mas penjaga toko, mbak-mbak pelayan café, ibu-ibu di angkot,
Mereka semua adalah orang-orang yang tidak saya benci, tapi tidak pula saya sukai.
Saya anggap saja diri saya apatis terhadap mereka.
Pusing yaa?
Iya saya juga pusing untuk menjelaskan.

Sama halnya dengan menyukai seseorang(sesuatu) yang selalu dipikirkan terus menerus, membenci juga begitu.
Hal-hal yang disukai dan dibenci terekam jelas di otak kita.
Yep, seperti cerita tentang si tetangga kost yang suka memutar lagu yang tidak saya sukai, tapi saya sampai hafal liriknya.

Sedangkan untuk hal-hal yang apatis, beberapa menit setelah itu mungkin saya sudah lupa wajah mas-mas penjaga toko, mbak-mbak pelayan café, ibu-ibu di angkot tersebut.

This happened to me. How about you?

Dislike



Mari mencuap-cuap lagi.

Beberapa hari ini tetangga sebelah kostan suka memutar lagu terbaru R***a, yang judulnya entah apa, saya kurang tau. Liriknya? saya yakin, saya hafal betul. Karena bukan sering lagi, tapi hampir setiap hari, hingga hari ini lagu itu diputar. Sampai saya bosan, lama-lama jadi tidak suka.

Hal ini mengingatkan saya pada sebuah masa lalu. Waktu itu saat ayah memasuki usia 40an. Puberty. Yeah, you know what I mean. Hampir setiap hari ayah memutar sebuah lagu yang sama.
Efeknya jika hari ini saya mendengar lagu itu, saya tetap tidak suka mendengarnya.

Saya jadi bertanya-tanya, apa ketidaksukaan terhadap suatu hal itu abadi? (Caelahhh…)

Haha…ini terlalu berlebihan mungkin yaa.
Tapi dari kecil sampai hari ini, the dislike things still the same
Iya masih sama.

Saya tidak suka makan kuning telur.
Saya jijik melihat anak ayam, anak burung, apalagi yang baru menetas. About this thing, I’ve another story, I’ll tell you later.
Saya takut untuk memegang semua jenis unggas, selucu apapun bentuknya.


Oh wait, the dislike things are about aves?
Haha..
At least I still eat chicken. Dead chickens. Yang udah ga keliatan lagi bentuk keayamannya(?)