Thursday, September 17

Tanpa Judul 2

Salah satu novelis asal Perancis pernah menulis

"Let us be grateful to the people who make us happy,
they are the gardeners who make our souls blossom"

dan ini iya banget

Bahwa seharusya tidak usah menghabiskan waktu menginginkan yang tidak pernah dimiliki,
karena apa yang kita miliki sekarang adalah apa apa yang dulu pernah sangat kita inginkan.

Duh, saya harus bersyukur lebih banyak lagi terhadap apa yang sudah dimiliki sekarang.



Tuesday, September 15

Jarak


Jarak adalah jeda. 
Sekat yang dipersiapkan Tuhan untuk diisi dengan doa. 
Bersabar menunggu dalam menanti temu. 
Menjadikannya sebagai kesepian yang hangat meski sendu sesekali melekat.

Jarak adalah ujian. 
Perkara yang dipersiapkan Tuhan untuk mengetahui sejauh mana kita mampu bertahan. Sederhananya begini, jika dalam rentang jarak terbentang kita mampu melewati setiap permasalahan yang menghadang, apa lagi jika kita melawannya dengan terus bergenggaman?

Aku mencintaimu
Lebih besar dari jarak yang memisahkan kita

Monday, April 6

Monstreza-Terlalu Rindu



Lagu itu mengalun pelan. Lagu tentang jam satu malam lewat lima belas menit.


Saat ini kamu pasti sedang merindukan saya. Kamu sedang sebisa mungkin mengingkari bahwa setengah, separuh, atau sebelah hatimu telah jatuh dalam genggaman saya. Kamu berusaha menolaknya, kamu berusaha menjauh, kamu berusaha membantah, tapi tidak bisa. Yang ada malah kamu semakin merindukan saya.   

Berikutnya, kamu ingin saya juga tahu bahwa kamu sedang merindukan saya. Sekuat tenaga kamu menahan diri untuk tidak menelepon, mengirim pesan, atau menyapa saya di riuhnya dunia maya. Setengah mati kamu berusaha untuk tak melakukan itu semua. Dan kali ini kamu menang. Tepatnya lagi, gengsi kamu yang menang.

  
Sekarang, mari kita baca ulang dan tukar kata gantinya.

‘Saya’ menjadi ‘kamu’ , dan ‘kamu’ menjadi ‘saya’.

 Kenyataannya memang hanya saya yang sedang terlalu rindu.

***


 Ah, tentu saja ini bukan tulisan saya

Tuesday, March 31

Sebuah Paket Raksasa

Sekali lagi saya akan bercerita tentang ayah,
lelaki yang tak pernah mampu saya tebak karakternya.

Lelaki dengan hati yang begitu keras, namun juga lembut.
Saya pernah bungkam pada ayah berhari-hari karena ayah membuang novel Wiro Sableng yang saya pinjam bersusah payah dari seorang teman
Saya kelas 4 SD waktu itu.
Ayah bilang novel itu bukan bacaan anak seumur saya.
Saya protes, ayah diam, saya bungkam, ayah tetap diam. 
Hingga kemudian ayah bercerita tentang Khidir dan Musa. 
Saya tercekat lalu mulai bersuara, meminta maaf

Lain cerita...
Setiap ramadhan, ayah berganti profesi
Jadi penceramah,
yang tiap malam berpindah dari satu masjid ke surau surau lain di kampung itu
Pengikut setia ayah, tentu saya dan adik perempuan saya.

Sampai kemudian saya TK, saya disuruh menghafal sebuah pidato oleh ibu guru

Ayah datang di hari saya tampil berpidato.
Dari panggung, saya lihat ayah berlinang air mata
Belakangan saya tahu
Ternyata ayah terharu karena anak si penceramah kampung sedang berbicara lantang di depan pak Bupati.
Itu pertama kalinya saya melihat ayah menangis. 

Hari ini...ayah kembali melakukan sesuatu yang tidak saya duga duga
Mengirimkan sebuah paket dari kampung sana ke tempat saya
Isi paketnya, sebuah kalender raksasa
dengan poto bersama keluarga
Sungguh, tak kuasa saya menahan haru dan tawa 
Ayah, memang luar biasa



Tuesday, March 17

Belum Ada Judul

Cerita ini dimulai dari gambar yang di twit @yeahmahasiswa
Saya mendadak teringat, bahwa salah satu alasan saya males posting di akun facebook adalah karena saya berteman dengan ayah.
Saya males dikepoin ayah...
dan sekarang, melihat gambar ini membuat saya sedih :(

Bukan "tidak berteman di medsos" yang mau saya bahas 
Akan tetapi, perkara  menghubungi dan bertanya kabar orang tua

Pengalaman pertama kali saya saat tinggal jauh dari orang tua, adalah waktu masuk SMA yang berasrama.
Tahun pertama, saya masih belum memiliki ponsel, jadilah saya termasuk golongan yang rajin pulang tiap bulan ke rumah
Tahun kedua, saya sudah dibelikan ponsel oleh ayah.
Frekuensi pulang ke rumah pun sudah tidak sesering dulu
Alasannya, saya sudah bisa menelpon rumah dan punya atm...

Setelah kuliah di Jawa, saya menyadari, pulang bukanlah perkara minta uang
Pulang ke rumah punya makna lebih dari itu.
Sayangnya pemahaman ini baru muncul saat saya sudah tidak bisa pulang sesukanya, 
karena kendala bentrokan dengan aktivitas maupun dana yang saya punya.
Menyedihkan

Karena tak bisa pulang sesukanya, saya membuat perjanjian dengan diri sendiri (woelah..)
Janjinya : "Minimal saya harus menelpon ke rumah seminggu sekali "

Yap, dan itu sudah saya tepati 5 tahun belakangan ini.
Menelpon (atau ditelpon) dari rumah dan menanya (atau ditanya) soal pertanyaan klasik..
Apa kabar?

Mungkin kesannya sederhana bahkan remeh
Dulu bahkan ibu pernah berkata
"Pertanyaan ibu kaya rekaman kaset ya kak? itu itu terus.."

Tak apa bu....

Pertanyaan: apa kabar? sehat? sudah makan? makannya jangan telat, shalatnya jangan bolong, dhuhamu gimana? masih tahajud? uangnya cukup? kuliah lancar? dan ditutup dengan pernyataan 
"kami di rumah sehat sehat saja" 
selalu membuat anakmu tenang dan senang bu.

Iya, pernyataan ibu di akhir yang selalu membuat saya tidak kritis dan ;lupa bertanya lagi 

Hingga kemarin, saya merasa ditohok
-------------------------- 

Seperti biasa, sehabis maghrib saya menelpon ayah, tak diangkat.
Jadinya menelpon ibu, dan diangkat, 
saya cerita bla bla...ibu menasehati bla bla bla...dan berakhir

Kemudian ayah menelpon saya, ternyata beliau sedang di rumah sakit menemani kakaknya yang ternyata sedang dirawat.
Jadilah saya pun sempat bertanya basa basi ditelpon dengan kakaknya ayah,
hingga kakak ayah bilang
Mak Tuo  : Iya, mak tuo sudah hampir pulih....ibu mu juga lagi sakit...jadi ayahmu sedang repot repotnya sekarang
Saya        : Apa? ibu sakit? kenapaa?
Mak Tuo  : Eh, kamu ga tau ya? yah mak tuo salah ngomong deh...

Akhirnya saya minta Mak Tuo memberikan ponsel itu ke ayah lagi, bertanya kabarnya ibu
Ayah bilang ibu jatuh sepulang shubuhan dari masjid
Jatuh terpeleset hingga masuk ke kali, 
Kepala terbentur sampai harus dilarikan ke ugd dan berakhir dengan enam jahitan

Jantung saya langsung berdebar kencang dua kali lipat mendengar penjelasan beliau.
Padahal beberapa belas menit yang lalu saya menelpon ibu dan ibu bilang sehat!

Yaampun,
Maafin dian ya bu,
Dian yang sibuk menceritakan diri sendiri sampai lupa bertanya keadaan ibu dan ayah

Depok 17 Maret 2015
Dian yang tercerahkan ketika ibunya telah sakit.
Poor kid :(

Wednesday, February 18

Menang Kamera :)

Semesta luar biasa

Jadi di suatu sore, saat scrolling timeline twitter, saya melihat rituitan temen tentang kuis menulis di blog, tentang Rencana Travelling di 2015

Dengan iseng saya buka blog http://www.pergidulu.com/ yang menjelaskan syarat-syarat ikut lomba.
Karena saya rasa syaratnya tak menyulitkan, jadilah saya ikutan submit tulisan berjudul PULANG

Tak disangkaaaa..
Tulisan itu menjadikan saya pemenang lomba dan berhak mendapatkan kamera gratis!!

Aih aih...
Sungguhlah ini akan sangat berguna untuk menemani saya menjelajahi Ranah Minang saat pulang kampung nanti

Terimakasih @PergiDulu
Kameranya sudah sampai di tangan saya :)



Friday, January 23

Pulang

"Semenyenangkannya pergi, pulang ke rumah tetap jauh lebih menyenangkan"

Kemarin akhirnya pulang lagi ke Ranah Minang
meski cuma seminggu
tapi itu cukuplah (dicukup-cukupkan) untuk membunuh rindu ke ayah dan ibu.

Selain membunuh rindu, dulu pernah cerita alasan lain kepulangan saya (pernah di post disini )

Selama pulang, ada banyak hal-hal sederhana yang saya temui, yang membuat saya kembali harus merendahkan hati lagi saat pulang ke kampung halaman. Nah ini beberapa diantaranya yang sempat di capture pakai kamera poket butut saya

Ayah yang selalu nganterin. Sejak jaman saya les (kelas 6 sd) ayah selalu nganterin hingga sekarang jamannya adek kecil saya-Dita-yang les. Ayah masih setia nganterin pake motor apapun cuacanya. Motor kesukaan ayah ya si GL-Pro tua yang hampir seumur saya.
Pernah juga ayah bersikukuh nganterin saya yang mau ketemuan sama gebetan,
betapa awkwardnya. -__-


(Nyuri moto ayah yang nganterin Dita les)
(Ayah tetep nganterin meski hujan masih turun)
Bagian mana di cerita ini yang mengharuskan saya untuk kembali rendah hati?
Kemarilah..akan saya ceritakan
Setiap pulang ke Ranah Minang, saya menyempatkan diri untuk mengunjungi kakak ayah.
Mereka pasangan suami istri yang menghabiskan masa tua di kampung yang betul-betul kampungan

(Marut kelapa berdua..entah ini kategori romantis nomer berapa :p)
(Ikutan nyobain marut sekalian mejeng di poto)
Kampung ini letaknya cukup jauh dari rumah saya. Tapi keletihan karena menempuh jarak yang jauh terbayar dengan pemandangan yang indah.

Kita mulai masuk ke inti cerita.
Di perjananan pulang, ban motor tua ayah meletus. 
Iya meletus...
dan kebetulan kita sedang berada di tempat yang tidak ada penduduknya sama sekali
Sejauh mata memandang yang ada cuma bukit
Saya bingung..ayah bingung..
Akhirnya kita jalan kaki sembari menunggu siapapun yang lewat untuk dimintai bantuan

(Motret-motret pas udah capek jalan kaki)
Setelah capek jalan, akhirnya ada juga motor lain yang lewat. Akhirnya saya nebeng sampai jalan raya yang ada kendaraan umumnya. Untuk sampai di rumah saya harus gonta-ganti tiga kendaraan. Berdesak-desakan dan rebutan pula karena kendaraan umum yang lewat sangatt langka, ga kaya di Jakarta.
Dekil? Iya
Capek? Apalagi
Soalnya pulang dari rumah kakaknya ayah tadi saya bawa 4 buah kelapa, 2 duren, satu tas rambutan, dan helm.
Bayangkan betapa ribetnya bawa begituan dan harus gonta-ganti kendaraan -__-

Cerita ayah bagaimana?
Entahlah..yang saya tahu ayah nyampe rumah dengan senyum mesam-mesem beberapa jam setelah saya. 
dan bertanya : "Gimana kak petualangan hari ini? Seru kan?"

Benarlah, tahun 2015 ini saya harus bisa pulang ke Ranah Minang lagi
Untuk tetap belajar rendah hati dan mengeksplore negeri sendiri.
Ada Jam Gadang di Bukittinggi, Lembah Harau, Lembah Anai, Gua Jepang, Istana Pagaruyuang, Danau Singkarak, Danau Maninjau, Danau Kembar, Puncak Lawang buat nyobain parasailing, dan masih banyak lagi. Meski semuanya sudah pernah saya kunjungi waktu jalan-jalan perpisahan pas SD, sungguhlah saya ingin mengunjunginya kembali. 
Semoga akhir tahun 2015 ini bisa pulang lagi dengan waktu yang lebih lama...ga cuma seminggu.
---------------------------------------------------------------------------------

PS: Cerita ini ditulis karena pertanyaan di blog http://www.pergidulu.com/, apa rencana travelling kamu di 2015? Tentu saya ingin ke Sumatera Barat lagi...mengabadikan Ranah Minang, semoga bukan pake kamera poket butut lagi :)


Depok

Tuesday, January 20

Tentang Jatuh

Ada daun yang jatuh dan melayang 
sebelum lumpuh di atas rumput
: itu gugur

Ada hati yang jatuh dan melayang
sebelum lumpuh di hadapanmu
: itu aku

Ada daun yang jatuh dan melayang
sebelum lumpuh di atas rumput 
: itu gugur

Ada hati yang jatuh dan melayang
sebelum lumpuh di hadapanmu
: itu aku

Friday, January 2

Menggenggam Dua

2 Januari 2015

Kepada kamu,
seseorang berhati luas
yang kucintai tanpa batas

Aku hanya ingin menyampaikan sesuatu di hari ini, hari pertama aku kamu menjadi kita
Meski sejujurnya, aku sudah merasa menjadi "kita" sejak dua ratus tiga belas hari yang lalu

Sayang, kamu harus tahu...
Betapa aku menunggu dengan tidak sabar momen itu
Menguat-nguatkan hatiku sembari mempersiapkan skenario untuk menggodamu
Meski pada akhirnya semua skenario di kepalaku terbang entah kemana 
dan aku hanya berujar "IYA" dengan singkat dan tanpa basa-basi untuk permintaanmu
Tapi percayalah
Detik itu dengan kepala penuh letupan dan letusan yang mengalahkan kembang api malam tahun baru,
aku jujur padamu tentang isi hatiku

Sungguh..sayang...
Tak pernah kurasakan cinta yang sebesar ini
Terlalu besar untuk mampu kusimpan sendiri
Hingga aku rasa, aku harus menuliskannya lagi
Saat aku menulis ini, debaran menyebut namamu tanpa henti sedari tadi

Lalu sayang...
Pintaku tak banyak
Genggamlah tanganku saat kamu berjalan santai, berlari tergesa-gesa 
atau duduk tersungkur di saat lelah. 
Aku ingin menjadi perempuan tempatmu pulang
Kapanpun dan dimanapun kamu berada, kamu akan selalu menemukan rumah 

Tanpa melibatkan segala gengsi, aku hanya ingin kamu tahu bahwa aku mencintai kamu
Utuh
Seluruh
Tanpa jenuh
Sungguh 

23:24 Depok
Perempuanmu
 

Friday, November 28

Thanks God Its (not) Free Day

Kamar kosan 28 November 2014, 12:48 WIB

Setengah jam lagi saya harus ada di kelas untuk presentasi materi bab 14 buku Groom, dan saya belum siappppppp -___-
Harusnya bukan saya, karena masih ada bab 11, 12 dan 13 yang harus maju
Tapi kenapa semuanya mendadak jam segini bilang ga bisa maju??  kenapa ga dari semalemm? jadi saya kan bisa mempersiapkan diri lebih baik...

Ya ampun, dada saya sesak lagi oleh kesal.
harusnya saya juga siap sih, 
tapi tapi tapi, karena mempertimbangkan prioritas, tugas yang lain dulu deh yang saya dikelarin

ahhhhhh...tuh mulai deh berkelit mencari pemaafan buat diri sendiri -____-

dan masih nyempetin nulis blog, padahal ppt belum kelar....

yaaa tapi ini buat nenangin otak dulu sih (--')/II

ah sudahlah

Monday, November 10

Hello 10th November

Everyone I know is getting married or pregnant, 
I am just getting awesome

and more awesome today :)

Happy birthday, self! 
Stay happy,stay blessed, stay awesome :)

Friday, October 31

Life Lesson

and like Ted Mosby said

"....you may think that your only choices are to swallow your anger or throw it in someone's face, but there is third option; you can just let it go, and only when you do that is it really gone, and you can move forward..."


Just let it go dian...let it go...and move forward :)

Sunday, September 21

Tarsius Meloncatlah

Lebih tinggi...
Lebih jauh...

Sedikit cerita, Tarsius adalah nama satwa khas Sulawesi yang dipakai oleh suatu kelompok mahasiswa untuk menamai diri mereka, Kelompok Pengamat Primata Tarsius

Dulu saya menjadi bagian dari mereka...
meski sekarang karena kesibukan pasca kampus jadi jarang ikut, bahkan sudah tidak terlibat sama sekali

Hari ini...tiba-tiba rindu zaman saat monitoring primata ke Pangrango, dan apalagi cara untuk mengobatinya selain melihat  fragmen yang tersisa lewat foto.

Let's check it
 
Pagi Pangrango...ini kami, para konservasionis muda

Apa saja yang bakal ditemukan dan dirasakan saat itu?

1. Tidur dipijit alam (baca akar pepohonan)
Sungguhlah sensasi dipijit terasa berbeda, luar biasa....pegelnya

Duh kangen suasana deg degan pas tidur  karena ada yang menggeram-geram muterin tenda


2. Manusia yang tergeletak 
Liat fotonya saja deh ya...pokoknya tergeletak, telentang, tertidur...dimana saja...



3. Manusia yang nyari sinyal
Dapat dimaklumi lah ya..soalnya kan monitoring biasanya dilakukan pas weekend, sehingga yang terjadi adalah date virtual, itu juga kalo ada sinyal..wuahaha..
Nyari sinyalnya siang, soalnya kalo malem takut dideketin sama si om yang menggeram. horor
 4. Manusia narsis
Ada beberapa kategori sih ini sebenarnya
-yang narsis
-yang malu-malu narsis
-dan yang malu-maluin (karena malu-maluin ga usah di upload deh potonya)
Kategori satu, masih oke lah yaa...
Kategori dua, malu malu narsis, apeu.. -__-

5. Kaki dikecup pacet
Hal yang tak bisa dihindari adalah kecupan pacet di kaki. Ini sama sekali tak romantis, karena efek kecupan minggu pertama rasanya gatal luar biasa...bekasnya juga baru hilang sebulan kemudian.
Ciee yang dikecup pacet ampe berdarah...
Tanpa tendensi apa apa ini hanya coretan kecıl kerınduan..hal tak penting yang membuat rindu itu semakin dan semakin
Jadi, Tarsius, tetaplah berkontrıbusı dalam melestarıkan alam Indonesıa...
Meloncatlah, lebih tinggi, lebih jauh



Saturday, September 6

Sebuah Mula


Siang tadi, saya disentil oleh pemandangan sepasang kekasih buta yang bersusah payah bergandengan tangan menyeberangi jalanan Margonda

Bahkan di mata seorang buta pun, cinta bisa menyala---lebih dari semesta

Detik itu juga saya mulai ragu, apa yang pepatah bilang “cinta berawal dari mata turun ke hati”
Ada hal yang bisa dicintai, tanpa harus melihatnya dengan mata terlebih dulu, dan somehow lebih tulus.   

Maka, hal hal yang saya (atau kamu) cintai, 
pun mungkin bermula dari sini---dari kata turun ke hati

Depok, 6 September 2014, 20:23 
 

Friday, September 5

Semesta Mendengar


Maka ucapkanlah yang baik baik saja

Tahun terakhir di SMA, saya pernah menulis sebuah tulisan.
Kurang lebih isinya begini “ Lebaran tahun depan di Jakarta”
Tulisan itu saya tempel di pintu lemari pakaian saya di asrama. Tulisan yang secara tidak sengaja akan selalu terbaca setiap harinya. Tulisan yang saya tuliskan dengan niat untuk menjaga semangat mengejar target masuk universitas dambaan

dan yap.....semesta mendengar permintaan tak spesifik saya

Tahun itu saya tidak lulus di universitas dambaan, melainkan di universitas yang ada embel embel Jakartanya
Tahun itu pertama kalinya saya harus merasakan sensasi lebaran sendirian di Jakarta

Lain cerita dengan Tika, adik perempuan saya,
Sehabis masa Ujian Nasional, ia begitu sibuk membereskan buku, kertas dan barang barang lainnya. Ibu dan saya-yang kebetulan di rumah karena masa libur kuliah- sempat heran dan bertanya,
          “Mau kemana dek? Sibuk amet beres-beres kamar”
          “Iya nih, kamarnya mau ditinggal, aku mau ke UI”
Spontan saya terbahak mendengar jawaban Tika, tes masuk pergururan tinggi saja dia belum.


Tapi sekali lagi, semesta mendengar

Tika lulus di universitas yang diucapkannya dengan percaya diri waktu itu


Maka hari ini,tahun ini,saya punya dua permintaan
Permintaan yang akan saya ucapkan spesifik setiap hari dalam sujud sujud saya
Tentu saja akan saya perjuangkan sepenuh hati dan tenaga
Ah ya, ini permintaan besar, manis dan rahasia
Semoga..................................................................................
Semoga…...............................................................................

Semesta mendengar
Maka ucapkanlah yang baik baik saja


Depok 5 September 2014, 23:45 WIB