Saya mendadak teringat, bahwa salah satu alasan saya males posting di akun facebook adalah karena saya berteman dengan ayah.
Saya males dikepoin ayah...
dan sekarang, melihat gambar ini membuat saya sedih :(
Bukan "tidak berteman di medsos" yang mau saya bahas
Akan tetapi, perkara menghubungi dan bertanya kabar orang tua
Pengalaman pertama kali saya saat tinggal jauh dari orang tua, adalah waktu masuk SMA yang berasrama.
Tahun pertama, saya masih belum memiliki ponsel, jadilah saya termasuk golongan yang rajin pulang tiap bulan ke rumah
Tahun kedua, saya sudah dibelikan ponsel oleh ayah.
Frekuensi pulang ke rumah pun sudah tidak sesering dulu
Alasannya, saya sudah bisa menelpon rumah dan punya atm...
Setelah kuliah di Jawa, saya menyadari, pulang bukanlah perkara minta uang
Pulang ke rumah punya makna lebih dari itu.
Sayangnya pemahaman ini baru muncul saat saya sudah tidak bisa pulang sesukanya,
karena kendala bentrokan dengan aktivitas maupun dana yang saya punya.
Menyedihkan
Karena tak bisa pulang sesukanya, saya membuat perjanjian dengan diri sendiri (woelah..)
Janjinya : "Minimal saya harus menelpon ke rumah seminggu sekali "
Yap, dan itu sudah saya tepati 5 tahun belakangan ini.
Menelpon (atau ditelpon) dari rumah dan menanya (atau ditanya) soal pertanyaan klasik..
Apa kabar?
Mungkin kesannya sederhana bahkan remeh
Dulu bahkan ibu pernah berkata
"Pertanyaan ibu kaya rekaman kaset ya kak? itu itu terus.."
Tak apa bu....
Pertanyaan: apa kabar? sehat? sudah makan? makannya jangan telat, shalatnya jangan bolong, dhuhamu gimana? masih tahajud? uangnya cukup? kuliah lancar? dan ditutup dengan pernyataan
"kami di rumah sehat sehat saja"
selalu membuat anakmu tenang dan senang bu.
Iya, pernyataan ibu di akhir yang selalu membuat saya tidak kritis dan ;lupa bertanya lagi
Hingga kemarin, saya merasa ditohok
--------------------------
Seperti biasa, sehabis maghrib saya menelpon ayah, tak diangkat.
Jadinya menelpon ibu, dan diangkat,
saya cerita bla bla...ibu menasehati bla bla bla...dan berakhir
Kemudian ayah menelpon saya, ternyata beliau sedang di rumah sakit menemani kakaknya yang ternyata sedang dirawat.
Jadilah saya pun sempat bertanya basa basi ditelpon dengan kakaknya ayah,
hingga kakak ayah bilang
Mak Tuo : Iya, mak tuo sudah hampir pulih....ibu mu juga lagi sakit...jadi ayahmu sedang repot repotnya sekarang
Saya : Apa? ibu sakit? kenapaa?
Mak Tuo : Eh, kamu ga tau ya? yah mak tuo salah ngomong deh...
Akhirnya saya minta Mak Tuo memberikan ponsel itu ke ayah lagi, bertanya kabarnya ibu
Ayah bilang ibu jatuh sepulang shubuhan dari masjid
Jatuh terpeleset hingga masuk ke kali,
Kepala terbentur sampai harus dilarikan ke ugd dan berakhir dengan enam jahitan
Jantung saya langsung berdebar kencang dua kali lipat mendengar penjelasan beliau.
Padahal beberapa belas menit yang lalu saya menelpon ibu dan ibu bilang sehat!
Yaampun,
Maafin dian ya bu,
Dian yang sibuk menceritakan diri sendiri sampai lupa bertanya keadaan ibu dan ayah
Depok 17 Maret 2015
Dian yang tercerahkan ketika ibunya telah sakit.
Poor kid :(

0 comments:
Post a Comment