Sekali lagi saya akan bercerita tentang ayah,
lelaki yang tak pernah mampu saya tebak karakternya.
Lelaki dengan hati yang begitu keras, namun juga lembut.
Saya pernah bungkam pada ayah berhari-hari karena ayah membuang novel Wiro Sableng yang saya pinjam bersusah payah dari seorang teman
Saya kelas 4 SD waktu itu.
Ayah bilang novel itu bukan bacaan anak seumur saya.
Saya protes, ayah diam, saya bungkam, ayah tetap diam.
Hingga kemudian ayah bercerita tentang Khidir dan Musa.
Saya tercekat lalu mulai bersuara, meminta maaf
Lain cerita...
Setiap ramadhan, ayah berganti profesi
Jadi penceramah,
yang tiap malam berpindah dari satu masjid ke surau surau lain di kampung itu
Pengikut setia ayah, tentu saya dan adik perempuan saya.
Sampai kemudian saya TK, saya disuruh menghafal sebuah pidato oleh ibu guru
Ayah datang di hari saya tampil berpidato.
Dari panggung, saya lihat ayah berlinang air mata
Belakangan saya tahu
Ternyata ayah terharu karena anak si penceramah kampung sedang berbicara lantang di depan pak Bupati.
Itu pertama kalinya saya melihat ayah menangis.
Hari ini...ayah kembali melakukan sesuatu yang tidak saya duga duga
Mengirimkan sebuah paket dari kampung sana ke tempat saya
Isi paketnya, sebuah kalender raksasa
dengan poto bersama keluarga
Sungguh, tak kuasa saya menahan haru dan tawa
Ayah, memang luar biasa
0 comments:
Post a Comment