Sunday, September 21

Tarsius Meloncatlah

Lebih tinggi...
Lebih jauh...

Sedikit cerita, Tarsius adalah nama satwa khas Sulawesi yang dipakai oleh suatu kelompok mahasiswa untuk menamai diri mereka, Kelompok Pengamat Primata Tarsius

Dulu saya menjadi bagian dari mereka...
meski sekarang karena kesibukan pasca kampus jadi jarang ikut, bahkan sudah tidak terlibat sama sekali

Hari ini...tiba-tiba rindu zaman saat monitoring primata ke Pangrango, dan apalagi cara untuk mengobatinya selain melihat  fragmen yang tersisa lewat foto.

Let's check it
 
Pagi Pangrango...ini kami, para konservasionis muda

Apa saja yang bakal ditemukan dan dirasakan saat itu?

1. Tidur dipijit alam (baca akar pepohonan)
Sungguhlah sensasi dipijit terasa berbeda, luar biasa....pegelnya

Duh kangen suasana deg degan pas tidur  karena ada yang menggeram-geram muterin tenda


2. Manusia yang tergeletak 
Liat fotonya saja deh ya...pokoknya tergeletak, telentang, tertidur...dimana saja...



3. Manusia yang nyari sinyal
Dapat dimaklumi lah ya..soalnya kan monitoring biasanya dilakukan pas weekend, sehingga yang terjadi adalah date virtual, itu juga kalo ada sinyal..wuahaha..
Nyari sinyalnya siang, soalnya kalo malem takut dideketin sama si om yang menggeram. horor
 4. Manusia narsis
Ada beberapa kategori sih ini sebenarnya
-yang narsis
-yang malu-malu narsis
-dan yang malu-maluin (karena malu-maluin ga usah di upload deh potonya)
Kategori satu, masih oke lah yaa...
Kategori dua, malu malu narsis, apeu.. -__-

5. Kaki dikecup pacet
Hal yang tak bisa dihindari adalah kecupan pacet di kaki. Ini sama sekali tak romantis, karena efek kecupan minggu pertama rasanya gatal luar biasa...bekasnya juga baru hilang sebulan kemudian.
Ciee yang dikecup pacet ampe berdarah...
Tanpa tendensi apa apa ini hanya coretan kecıl kerınduan..hal tak penting yang membuat rindu itu semakin dan semakin
Jadi, Tarsius, tetaplah berkontrıbusı dalam melestarıkan alam Indonesıa...
Meloncatlah, lebih tinggi, lebih jauh



0 comments:

Post a Comment