Tuesday, March 17

Belum Ada Judul

Cerita ini dimulai dari gambar yang di twit @yeahmahasiswa
Saya mendadak teringat, bahwa salah satu alasan saya males posting di akun facebook adalah karena saya berteman dengan ayah.
Saya males dikepoin ayah...
dan sekarang, melihat gambar ini membuat saya sedih :(

Bukan "tidak berteman di medsos" yang mau saya bahas 
Akan tetapi, perkara  menghubungi dan bertanya kabar orang tua

Pengalaman pertama kali saya saat tinggal jauh dari orang tua, adalah waktu masuk SMA yang berasrama.
Tahun pertama, saya masih belum memiliki ponsel, jadilah saya termasuk golongan yang rajin pulang tiap bulan ke rumah
Tahun kedua, saya sudah dibelikan ponsel oleh ayah.
Frekuensi pulang ke rumah pun sudah tidak sesering dulu
Alasannya, saya sudah bisa menelpon rumah dan punya atm...

Setelah kuliah di Jawa, saya menyadari, pulang bukanlah perkara minta uang
Pulang ke rumah punya makna lebih dari itu.
Sayangnya pemahaman ini baru muncul saat saya sudah tidak bisa pulang sesukanya, 
karena kendala bentrokan dengan aktivitas maupun dana yang saya punya.
Menyedihkan

Karena tak bisa pulang sesukanya, saya membuat perjanjian dengan diri sendiri (woelah..)
Janjinya : "Minimal saya harus menelpon ke rumah seminggu sekali "

Yap, dan itu sudah saya tepati 5 tahun belakangan ini.
Menelpon (atau ditelpon) dari rumah dan menanya (atau ditanya) soal pertanyaan klasik..
Apa kabar?

Mungkin kesannya sederhana bahkan remeh
Dulu bahkan ibu pernah berkata
"Pertanyaan ibu kaya rekaman kaset ya kak? itu itu terus.."

Tak apa bu....

Pertanyaan: apa kabar? sehat? sudah makan? makannya jangan telat, shalatnya jangan bolong, dhuhamu gimana? masih tahajud? uangnya cukup? kuliah lancar? dan ditutup dengan pernyataan 
"kami di rumah sehat sehat saja" 
selalu membuat anakmu tenang dan senang bu.

Iya, pernyataan ibu di akhir yang selalu membuat saya tidak kritis dan ;lupa bertanya lagi 

Hingga kemarin, saya merasa ditohok
-------------------------- 

Seperti biasa, sehabis maghrib saya menelpon ayah, tak diangkat.
Jadinya menelpon ibu, dan diangkat, 
saya cerita bla bla...ibu menasehati bla bla bla...dan berakhir

Kemudian ayah menelpon saya, ternyata beliau sedang di rumah sakit menemani kakaknya yang ternyata sedang dirawat.
Jadilah saya pun sempat bertanya basa basi ditelpon dengan kakaknya ayah,
hingga kakak ayah bilang
Mak Tuo  : Iya, mak tuo sudah hampir pulih....ibu mu juga lagi sakit...jadi ayahmu sedang repot repotnya sekarang
Saya        : Apa? ibu sakit? kenapaa?
Mak Tuo  : Eh, kamu ga tau ya? yah mak tuo salah ngomong deh...

Akhirnya saya minta Mak Tuo memberikan ponsel itu ke ayah lagi, bertanya kabarnya ibu
Ayah bilang ibu jatuh sepulang shubuhan dari masjid
Jatuh terpeleset hingga masuk ke kali, 
Kepala terbentur sampai harus dilarikan ke ugd dan berakhir dengan enam jahitan

Jantung saya langsung berdebar kencang dua kali lipat mendengar penjelasan beliau.
Padahal beberapa belas menit yang lalu saya menelpon ibu dan ibu bilang sehat!

Yaampun,
Maafin dian ya bu,
Dian yang sibuk menceritakan diri sendiri sampai lupa bertanya keadaan ibu dan ayah

Depok 17 Maret 2015
Dian yang tercerahkan ketika ibunya telah sakit.
Poor kid :(

Wednesday, February 18

Menang Kamera :)

Semesta luar biasa

Jadi di suatu sore, saat scrolling timeline twitter, saya melihat rituitan temen tentang kuis menulis di blog, tentang Rencana Travelling di 2015

Dengan iseng saya buka blog http://www.pergidulu.com/ yang menjelaskan syarat-syarat ikut lomba.
Karena saya rasa syaratnya tak menyulitkan, jadilah saya ikutan submit tulisan berjudul PULANG

Tak disangkaaaa..
Tulisan itu menjadikan saya pemenang lomba dan berhak mendapatkan kamera gratis!!

Aih aih...
Sungguhlah ini akan sangat berguna untuk menemani saya menjelajahi Ranah Minang saat pulang kampung nanti

Terimakasih @PergiDulu
Kameranya sudah sampai di tangan saya :)



Friday, January 23

Pulang

"Semenyenangkannya pergi, pulang ke rumah tetap jauh lebih menyenangkan"

Kemarin akhirnya pulang lagi ke Ranah Minang
meski cuma seminggu
tapi itu cukuplah (dicukup-cukupkan) untuk membunuh rindu ke ayah dan ibu.

Selain membunuh rindu, dulu pernah cerita alasan lain kepulangan saya (pernah di post disini )

Selama pulang, ada banyak hal-hal sederhana yang saya temui, yang membuat saya kembali harus merendahkan hati lagi saat pulang ke kampung halaman. Nah ini beberapa diantaranya yang sempat di capture pakai kamera poket butut saya

Ayah yang selalu nganterin. Sejak jaman saya les (kelas 6 sd) ayah selalu nganterin hingga sekarang jamannya adek kecil saya-Dita-yang les. Ayah masih setia nganterin pake motor apapun cuacanya. Motor kesukaan ayah ya si GL-Pro tua yang hampir seumur saya.
Pernah juga ayah bersikukuh nganterin saya yang mau ketemuan sama gebetan,
betapa awkwardnya. -__-


(Nyuri moto ayah yang nganterin Dita les)
(Ayah tetep nganterin meski hujan masih turun)
Bagian mana di cerita ini yang mengharuskan saya untuk kembali rendah hati?
Kemarilah..akan saya ceritakan
Setiap pulang ke Ranah Minang, saya menyempatkan diri untuk mengunjungi kakak ayah.
Mereka pasangan suami istri yang menghabiskan masa tua di kampung yang betul-betul kampungan

(Marut kelapa berdua..entah ini kategori romantis nomer berapa :p)
(Ikutan nyobain marut sekalian mejeng di poto)
Kampung ini letaknya cukup jauh dari rumah saya. Tapi keletihan karena menempuh jarak yang jauh terbayar dengan pemandangan yang indah.

Kita mulai masuk ke inti cerita.
Di perjananan pulang, ban motor tua ayah meletus. 
Iya meletus...
dan kebetulan kita sedang berada di tempat yang tidak ada penduduknya sama sekali
Sejauh mata memandang yang ada cuma bukit
Saya bingung..ayah bingung..
Akhirnya kita jalan kaki sembari menunggu siapapun yang lewat untuk dimintai bantuan

(Motret-motret pas udah capek jalan kaki)
Setelah capek jalan, akhirnya ada juga motor lain yang lewat. Akhirnya saya nebeng sampai jalan raya yang ada kendaraan umumnya. Untuk sampai di rumah saya harus gonta-ganti tiga kendaraan. Berdesak-desakan dan rebutan pula karena kendaraan umum yang lewat sangatt langka, ga kaya di Jakarta.
Dekil? Iya
Capek? Apalagi
Soalnya pulang dari rumah kakaknya ayah tadi saya bawa 4 buah kelapa, 2 duren, satu tas rambutan, dan helm.
Bayangkan betapa ribetnya bawa begituan dan harus gonta-ganti kendaraan -__-

Cerita ayah bagaimana?
Entahlah..yang saya tahu ayah nyampe rumah dengan senyum mesam-mesem beberapa jam setelah saya. 
dan bertanya : "Gimana kak petualangan hari ini? Seru kan?"

Benarlah, tahun 2015 ini saya harus bisa pulang ke Ranah Minang lagi
Untuk tetap belajar rendah hati dan mengeksplore negeri sendiri.
Ada Jam Gadang di Bukittinggi, Lembah Harau, Lembah Anai, Gua Jepang, Istana Pagaruyuang, Danau Singkarak, Danau Maninjau, Danau Kembar, Puncak Lawang buat nyobain parasailing, dan masih banyak lagi. Meski semuanya sudah pernah saya kunjungi waktu jalan-jalan perpisahan pas SD, sungguhlah saya ingin mengunjunginya kembali. 
Semoga akhir tahun 2015 ini bisa pulang lagi dengan waktu yang lebih lama...ga cuma seminggu.
---------------------------------------------------------------------------------

PS: Cerita ini ditulis karena pertanyaan di blog http://www.pergidulu.com/, apa rencana travelling kamu di 2015? Tentu saya ingin ke Sumatera Barat lagi...mengabadikan Ranah Minang, semoga bukan pake kamera poket butut lagi :)


Depok

Tuesday, January 20

Tentang Jatuh

Ada daun yang jatuh dan melayang 
sebelum lumpuh di atas rumput
: itu gugur

Ada hati yang jatuh dan melayang
sebelum lumpuh di hadapanmu
: itu aku

Ada daun yang jatuh dan melayang
sebelum lumpuh di atas rumput 
: itu gugur

Ada hati yang jatuh dan melayang
sebelum lumpuh di hadapanmu
: itu aku

Friday, January 2

Menggenggam Dua

2 Januari 2015

Kepada kamu,
seseorang berhati luas
yang kucintai tanpa batas

Aku hanya ingin menyampaikan sesuatu di hari ini, hari pertama aku kamu menjadi kita
Meski sejujurnya, aku sudah merasa menjadi "kita" sejak dua ratus tiga belas hari yang lalu

Sayang, kamu harus tahu...
Betapa aku menunggu dengan tidak sabar momen itu
Menguat-nguatkan hatiku sembari mempersiapkan skenario untuk menggodamu
Meski pada akhirnya semua skenario di kepalaku terbang entah kemana 
dan aku hanya berujar "IYA" dengan singkat dan tanpa basa-basi untuk permintaanmu
Tapi percayalah
Detik itu dengan kepala penuh letupan dan letusan yang mengalahkan kembang api malam tahun baru,
aku jujur padamu tentang isi hatiku

Sungguh..sayang...
Tak pernah kurasakan cinta yang sebesar ini
Terlalu besar untuk mampu kusimpan sendiri
Hingga aku rasa, aku harus menuliskannya lagi
Saat aku menulis ini, debaran menyebut namamu tanpa henti sedari tadi

Lalu sayang...
Pintaku tak banyak
Genggamlah tanganku saat kamu berjalan santai, berlari tergesa-gesa 
atau duduk tersungkur di saat lelah. 
Aku ingin menjadi perempuan tempatmu pulang
Kapanpun dan dimanapun kamu berada, kamu akan selalu menemukan rumah 

Tanpa melibatkan segala gengsi, aku hanya ingin kamu tahu bahwa aku mencintai kamu
Utuh
Seluruh
Tanpa jenuh
Sungguh 

23:24 Depok
Perempuanmu
 

Friday, November 28

Thanks God Its (not) Free Day

Kamar kosan 28 November 2014, 12:48 WIB

Setengah jam lagi saya harus ada di kelas untuk presentasi materi bab 14 buku Groom, dan saya belum siappppppp -___-
Harusnya bukan saya, karena masih ada bab 11, 12 dan 13 yang harus maju
Tapi kenapa semuanya mendadak jam segini bilang ga bisa maju??  kenapa ga dari semalemm? jadi saya kan bisa mempersiapkan diri lebih baik...

Ya ampun, dada saya sesak lagi oleh kesal.
harusnya saya juga siap sih, 
tapi tapi tapi, karena mempertimbangkan prioritas, tugas yang lain dulu deh yang saya dikelarin

ahhhhhh...tuh mulai deh berkelit mencari pemaafan buat diri sendiri -____-

dan masih nyempetin nulis blog, padahal ppt belum kelar....

yaaa tapi ini buat nenangin otak dulu sih (--')/II

ah sudahlah

Monday, November 10

Hello 10th November

Everyone I know is getting married or pregnant, 
I am just getting awesome

and more awesome today :)

Happy birthday, self! 
Stay happy,stay blessed, stay awesome :)