Manusia memang makhluk paling unik yang saya temukan….
Bukan berarti saya menganggap diri saya bukan manusia. Tapi justru karena saya manusialah maka saya bisa beranggapan seperti ini.
Saya ingat beberapa hari yang lalu di kelas Ilmu Sosial Dasar (kelas nomor 2 menyenangkan setelah Biokimia bagi saya), dosen saya berujar ”Tiap-tiap individu¬ itu unik lo..”. Saya pun manggut-manggut sok paham dan sok mengaitkan apa yang diucapkan oleh dosen itu dengan sedikit wawasan yang saya ingat tentang kehereditasan pada manusia.
Perbedaan komposisi gen dan kromosom yang diwariskan oleh orangtua pada turunannya menyebabkan tak ada orangtua yang memiliki anak yang persis sama. Bahkan dalam kasus kembar identik sekalipun. Mungkin dalam tampilan morfologi kembar identik terlihat mirip (mirip bukan berarti sama lo..), tapi keadaan psikis, karakter yang dibawa tiap orang akan berbeda-beda. Perbedaan tersebut bisa jadi disebabkan oleh faktor internal dan faktor eksternal.
Tak usahlah terlalu berpanjang lebar saya menjelaskannya, karena toh saya juga baru semester ini belajar tentang Genetika….
Itu baru keunikan yang saya lihat dari sisi yang paling saya pahami, keunikan secara gen
Tapi ada keunikan lain yang lebih menarik yang sampai saat ini saya sendiri belum bisa mengerti. Keunikan karakter atau sifat atau keinginan atau apalah istilahnya (mungkin orang Psikologi yang lebih tau istilah yang pas dibanding saya yang baru menginjak tahun 2 di Biologi).
Saya beranggapan seperti itu lebih karena saya ingin mendapatkan jawaban yang bisa menjelaskan bagaimana saya.
Membantu saya untuk bisa LEBIH MENGETAHUI siapa saya sebenarnya ( bukan berarti setelah hampir 1/5 abad saya hidup saya belum mengenal siapa saya). Karena korelasinya ketika saya telah bisa mengetahui siapa saya, hakikat saya, peran–peran yang saya lakoni, maka saya berharap akan mendapat pemahaman-pemahaman lain yang bermuara pada pemahaman akan Dzat yang memberi pemahaman tersebut.
Salah satu bagian unik karakter itu adalah KEINGINANnya. Begitu banyak keinginan sampai-sampai manusia jadi tak paham apa yang jadi keinginan dan apa yang jadi kebutuhan. Tak usah jauh-jauh mengambil contoh pada para konglomerat yang mengoleksi aneka model mobil sehingga Jakarta sumpek.
Sampel paling dekat dan yang mudah saya amati adalah diri saya sendiri.
Saya terkadang bingung dengan keinginan saya sendiri.
Ketika saya disibukkan dengan seabreg aktivitas kemahasiswaan saya, tugas, makalah, presentasi, kuis, pretest, laporan praktikum tiap hari, UTS, UAS, seminar, proposal acara ini, itu dsb, saya malah ingin minggu-minggu UAS cepat datang dan selesai, karena setelah itu saya bisa liburrrrr.Tapi ketika telah dihadapkan dengan aktivitas libur yang tak pernah kurang dari sebulan saya malah bingung dan jenuh lalu kemudian bermuara pada keinginan agar liburan ini segera berakhir.
Saya yakin sebagian besar mahasiswa dan pelajar merasakan hal yang sama dengan apa yang saya rasakan…
Ah ya…satu lagi, kata-kata “ manusia merupakan makhluk antroposentris” saya pikir juga menggambarkan keunikan lain tentang manusia. Manusia akan selalu mempelajari dan mengeksplorasi bagian bumi beserta kandungan hayati yang memberi manfaat (mungkin lebih tepatnya mempelajari kerugian juga, sehingga kerugian itu bisa diminimalisir)baginya.
Contoh paling dekat saja, selama bertahun-tahun menuntut ilmu, setiap kali ujian atau test, saya seringkali menemukan pertanyaan yang menanyakan tentang manfaat suatu hal bagi kehidupan manusia?.
Pertanyaan terakhir yang saya ingat pas di kelas Mikrobiologi kemarin
“Jelaskan tentang Bioleaching dan manfaatnya bagi kehidupan manusia…”
dan saya meyakinkan diri saya bahwa hampir sebagian mahasiswa yang telah belajar (untuk yang tidak belajar atau membacanya mungkin akan memberi jawaban lain) di kelas itu akan menjawab “Salah satu tekhnik yang digunakan di industri-industri pertambangan dalam pengambilan ekstrak mineral seperti emas dan tembaga dengan menggunakan mikroba khusus seperti Thiobacillus ferro-oxidant atau Thiobacillus thio-oxidant…”. Terbukti manusia itu begitu antroposentris kan…hehehe…
Terpikir juga oleh saya untuk apa saya menulis hal-hal seperti ini. Setelah saya urutkan kejadian, saya menulis hal ini karena saya tidak tahu lagi apa yang bisa saya lakukan saat ini, karena listrik padam, saya sendirian, dan laptop lah benda yang masih bisa bercahaya setelah ponsel saya juga ikut-ikutan mati. Maka akhirnya saya tiba-tiba punya keinginan untuk mencoba menulis. Keinginan itu muncul begitu saja dikepala saya. Entah di otak bagian mana saya lupa.
Kemudian tiba-tiba pula saya menjadi sangat kagum pada para ahli yang bisa menemukan dan memetakan otak yang merupakan organ paling rumit menurut saya. Mereka bisa memetakan pusat ingatan, rasa sakit, lapar, keinginan,keseimbangan tubuh dan banyak pusat-pusat lainnya yang bagi saya untuk mengingatnya saja susah apalagi mencoba membuat teori dan peta baru yang mematahkan teori dan peta lama mereka.
Sepertinya makin lama saya bertahan untuk menuangkan pikiran-pikiran saya maka imajinasi saya makin tak terkontrol dan makin bertele-tele lah tulisan ini. Yang jelas semua kekaguman saya terhadap para ahli-ahli yang bisa memetakan daerah diotak tadi membuat kekaguman saya semakin bertambah-tambah pada Sang Pencipta otak para ahli tersebut. Bagaimana dahsyatnya otak Sang Pencipta itu, sehingga semakin keras saya berpikir semakin saya sadar bahwa tak ada hasil apapun yang bisa saya simpulkan…
Ya sudahlah...
0 comments:
Post a Comment