Akhirnya setelah dua hari terkapar lemas karena lelah yang tak tanggung-tanggung sepulang dari Tapos, saya bisa juga menepati janji kepada rekan satu group monitoring mamalia (Wyd, Hida K’ Desti monitoring 3bulan lagi kita jangan di mammalia lagi yaa…) untuk menulis catatan perjalanan ini.
Sebenarnya saya sangat bingung untuk menuliskan semua kejadian yang terjadi selama seminggu di Tapos, karena begitu banyak pengalaman luar biasa dan semua yang serba pertama saya alami.
Dari mulai membawa cariel yang beratnya subhanallah dan harus berjalan sejauh 5,2 km di cuaca yang terik (efeknya wajah memerah, benar-benar bukti sempurna kalau saya habis mendaki).
Mungkin 5,2 km bagi sebagian orang adalah jarak yang tak terlalu jauh tapi tidak bagi saya dengan tanggungan beban yang lebih dari 70 liter di jalan yang menanjak seperti itu.
Bisa sampai ke tempat tujuan adalah hal luar biasa bagi saya setelah selama perjalanan itu saya kembali bertanya-tanya pada diri saya sendiri untuk apa saya rela melakukan hal yang menyusahkan diri sendiri padahal sebelum keberangkatan saya sedang sakit dan dilarang dokter untuk melakukan kegiatan berat apalagi untuk melakukan pendakian.
Memikirkan ulang apa tujuan saya ikut Kelompok Pengamat Primata Tarsius dan memilih untuk tidak pulang tahun ini dan semua pertanyaan itu terjawab sudah setelah semua hal yang membuat saya lelah itu bisa saya lewati.
Dari mulai membawa cariel yang beratnya subhanallah dan harus berjalan sejauh 5,2 km di cuaca yang terik (efeknya wajah memerah, benar-benar bukti sempurna kalau saya habis mendaki).
Mungkin 5,2 km bagi sebagian orang adalah jarak yang tak terlalu jauh tapi tidak bagi saya dengan tanggungan beban yang lebih dari 70 liter di jalan yang menanjak seperti itu.
Bisa sampai ke tempat tujuan adalah hal luar biasa bagi saya setelah selama perjalanan itu saya kembali bertanya-tanya pada diri saya sendiri untuk apa saya rela melakukan hal yang menyusahkan diri sendiri padahal sebelum keberangkatan saya sedang sakit dan dilarang dokter untuk melakukan kegiatan berat apalagi untuk melakukan pendakian.
Memikirkan ulang apa tujuan saya ikut Kelompok Pengamat Primata Tarsius dan memilih untuk tidak pulang tahun ini dan semua pertanyaan itu terjawab sudah setelah semua hal yang membuat saya lelah itu bisa saya lewati.
Sesuai dugaan, perjalanan ke Tapos tak semudah yang saya bayangkan.
Bayangkan betapa paniknya saya setelah satu persatu dari teman-teman satu perjalanan saya tumbang karena diserang tawon.
Ini bukan tawon biasa karena ukurannya yang besar, liar dan sangat cerdas menurut saya karena hanya menyerang bagian kepala (ubun-ubun tepatnya) dan langsung membuat korban berteriak-teriak seperti orang kesurupan lalu pingsan.
Pada saat itu saya benar-benar bingung harus menolong mereka atau menyelamatkan diri saya sendiri dengan berlari menjauh, tapi saya tak memilih kedua-duanya.
Saya malah hanya terdiam menatap mereka dan berdoa dalam hati agar tawon-tawon itu tidak menyerang saya (saya bahkan lupa mendoakan kesembuhan mereka, benar-benar manusia!, maaf yaaa…).
Doa saya memang terkabul tapi ada kebingungan lain yang menyertai…siapa yang akan membantu membawakan tas-tas mereka yang beratnya juga luar biasa sementara membawa tas saya sendiri saja saya sudah mau menangis.
Bayangkan betapa paniknya saya setelah satu persatu dari teman-teman satu perjalanan saya tumbang karena diserang tawon.
Ini bukan tawon biasa karena ukurannya yang besar, liar dan sangat cerdas menurut saya karena hanya menyerang bagian kepala (ubun-ubun tepatnya) dan langsung membuat korban berteriak-teriak seperti orang kesurupan lalu pingsan.
Pada saat itu saya benar-benar bingung harus menolong mereka atau menyelamatkan diri saya sendiri dengan berlari menjauh, tapi saya tak memilih kedua-duanya.
Saya malah hanya terdiam menatap mereka dan berdoa dalam hati agar tawon-tawon itu tidak menyerang saya (saya bahkan lupa mendoakan kesembuhan mereka, benar-benar manusia!, maaf yaaa…).
Doa saya memang terkabul tapi ada kebingungan lain yang menyertai…siapa yang akan membantu membawakan tas-tas mereka yang beratnya juga luar biasa sementara membawa tas saya sendiri saja saya sudah mau menangis.
Pada akhirnya setelah semua hal berat dan meletihkan itu kami sampai juga di lokasi yang pas untuk mendirikan camp.
Menjelang tidur saya berpikir bahwa satu-persatu pertanyaan yang saya tanyakan selama pendakian terjawab.
Begitu cepat, hanya setelah maghrib tiba, setelah saya berdiri melihat dari ketinggian dan penuh kegelapan Bogor yang penuh lampu kerlap-kerlip,
Gunung Salak yang angkuh menopang di sudut lainnya, dan langit malam berbintang… saya benar-benar ternganga melihat kombinasi dari ketiganya yang begitu sempurna.
Dan selama seminggu disana saya yang benci kegelapan malah menunggu malam yang gelap untuk bisa melihat kombinasi itu sesering mungkin.
(Maaf lagi yaaa buat teman-teman kombinasi ini tak bisa tertangkap kamera jadi coba bayangkan saja sendiri, masih tak bisa?? Saya sarankan anda ikut saya kelak jika saya kesana lagi).
Menjelang tidur saya berpikir bahwa satu-persatu pertanyaan yang saya tanyakan selama pendakian terjawab.
Begitu cepat, hanya setelah maghrib tiba, setelah saya berdiri melihat dari ketinggian dan penuh kegelapan Bogor yang penuh lampu kerlap-kerlip,
Gunung Salak yang angkuh menopang di sudut lainnya, dan langit malam berbintang… saya benar-benar ternganga melihat kombinasi dari ketiganya yang begitu sempurna.
Dan selama seminggu disana saya yang benci kegelapan malah menunggu malam yang gelap untuk bisa melihat kombinasi itu sesering mungkin.
(Maaf lagi yaaa buat teman-teman kombinasi ini tak bisa tertangkap kamera jadi coba bayangkan saja sendiri, masih tak bisa?? Saya sarankan anda ikut saya kelak jika saya kesana lagi).
Esoknya setelah semalam saya tidur pulas tanpa mempermasalahkan sakitnya tidur di atas tanah penuh akar-akar pohon yang menonjol menusuk punggung (ini kata teman saya yang tidurnya tak pulas), saya di jadwalkan untuk melakukan monitoring di jalur Cibayawak, jalur yang kata mereka berbahaya sehingga saya ikut tersuggesti pula.
Benar saja setelah berjalan 1500 meter menjauh dari lokasi camp kami bertemu sungai, beristirahat disana sembari merapikan data yang didapat dan berdiskusi akankah kami masuk lebih jauh kedalam hutan dan berharap bertemu air terjun.
Tapi karena mempertimbangkan waktu kami memilih untuk pulang karena sesuai aturan kami harus sampai di camp kembali jam 11 (tau kenapa??).
Di perjalanan pulang ini saya baru tahu mengapa teman-teman saya berkata jalur yang saya lewati ini berbahaya, saya baru paham apa alasannya setelah saya terpaku ketakutan dan pikiran akan kematian menari-nari di otak saya.
Saya pikir saya yang berhalusinasi, tapi tidak dua teman saya yang lainnya juga merasakan ketakutan yang sama.
Kenapa?? karena saat itu kami mendengar suara geraman macan, karena saat itu kami hanya bertiga di dalam hutan, karena saat itu hanya satu diantara kami yang membawa parang.
Benar saja setelah berjalan 1500 meter menjauh dari lokasi camp kami bertemu sungai, beristirahat disana sembari merapikan data yang didapat dan berdiskusi akankah kami masuk lebih jauh kedalam hutan dan berharap bertemu air terjun.
Tapi karena mempertimbangkan waktu kami memilih untuk pulang karena sesuai aturan kami harus sampai di camp kembali jam 11 (tau kenapa??).
Di perjalanan pulang ini saya baru tahu mengapa teman-teman saya berkata jalur yang saya lewati ini berbahaya, saya baru paham apa alasannya setelah saya terpaku ketakutan dan pikiran akan kematian menari-nari di otak saya.
Saya pikir saya yang berhalusinasi, tapi tidak dua teman saya yang lainnya juga merasakan ketakutan yang sama.
Kenapa?? karena saat itu kami mendengar suara geraman macan, karena saat itu kami hanya bertiga di dalam hutan, karena saat itu hanya satu diantara kami yang membawa parang.
Hahaha…pada saat saya mereka ulang kejadian ini, mengingat saya yang terpaku pucat kemudian berjalan secepat mungkin agar bisa keluar dari hutan, saya malah tertawa sinis menertawakan diri sendiri. Padahal kejadian itu bagi sebagian orang adalah moment yamg tepat untuk mendapatkan data lebih banyak lagi. Sedangkan saya bertingkah seperti kebanyakan orang yang lain yang lari ketakutan menyelamatkan diri dan mengabaikan moment untuk data yang bernilai seperti itu. (berdoa semoga monitoring 3 bulan lagi saya lebih berani).
Hari selanjutnya saya dijadwalkan ke jalur Pasir Banteng, kata mereka, teman-teman saya yang sudah pernah melewati jalur ini, Pasir Banteng bukanlah jalur yang terlalu berbahaya dibanding Cibayawak dan kembali saya tersuggesti dengan mereka.
Tapi setelah melewati jalur tersebut untuk pertama kali saya tak setuju dengan mereka, bagi saya ini jalur yang paling berbahaya dari semua jalur.
Perjalanan 1675 meter ke dalam hutan yang licin, kaki penuh gigitan pacet dan jalan setapak yang jika anda tak berhati-hati satu langkah saja maka anda akan terperosok masuk jurang.
Yap! Ini alasan saya berkata jalur ini berbahaya, karena saya telah merasakan indahnya terpeleset dengan ketakutan akan terperosok masuk jurang.
Tapi seketika anggapan saya berubah setelah keesokan harinya saya melewati jalur Tarsius, jalur baru yang lebih licin ditambah harus menurun dengan kemiringan kurang dari 30 derajat kemudian mendaki lagi dengan kemiringan yang sama.
Saya sempat terpeleset ketika melewati sungai yang membuat semua catatan dan data tentang pengamatan hari itu basah.
Jalur Tarsiuslah yang menjadi pemenang jalur paling berbahaya karena saat itu kami terjebak kabut sehingga jarak pandang hanya berberapa meter kedepan, belum lagi dijebak oleh hujan.
Kami hanya sanggup berjalan 300 meter dari camp tapi itu cukup untuk membuat dada ngos-ngosan karena begitu seringnya tergelincir, jika anda berada di bagian belakang barisan kemudian anda tergelincir maka anda akan membuat teman-teman didepan anda ikut tergelincir pula.
Tapi ini yang saya sebut takdir Tuhan, teman saya yang berjalan paling depan lah yang paling sering tergelincir jadi ia tak membahayakan keselamatan orang lain.
Saya yang berada di urutan kedua barisan itu, meski sering terpeleset tapi untunglah tak membuat orang di depan saya ikut terpeleset bersama saya dan yang berada di barisan paling belakang pun saya rasa tak pernah terpeleset tapi entahlah saya tidak terlalu memperhatikannya.
Inilah yang saya sebut perjalanan 300 meter yang ekstrem itu
Tapi setelah melewati jalur tersebut untuk pertama kali saya tak setuju dengan mereka, bagi saya ini jalur yang paling berbahaya dari semua jalur.
Perjalanan 1675 meter ke dalam hutan yang licin, kaki penuh gigitan pacet dan jalan setapak yang jika anda tak berhati-hati satu langkah saja maka anda akan terperosok masuk jurang.
Yap! Ini alasan saya berkata jalur ini berbahaya, karena saya telah merasakan indahnya terpeleset dengan ketakutan akan terperosok masuk jurang.
Tapi seketika anggapan saya berubah setelah keesokan harinya saya melewati jalur Tarsius, jalur baru yang lebih licin ditambah harus menurun dengan kemiringan kurang dari 30 derajat kemudian mendaki lagi dengan kemiringan yang sama.
Saya sempat terpeleset ketika melewati sungai yang membuat semua catatan dan data tentang pengamatan hari itu basah.
Jalur Tarsiuslah yang menjadi pemenang jalur paling berbahaya karena saat itu kami terjebak kabut sehingga jarak pandang hanya berberapa meter kedepan, belum lagi dijebak oleh hujan.
Kami hanya sanggup berjalan 300 meter dari camp tapi itu cukup untuk membuat dada ngos-ngosan karena begitu seringnya tergelincir, jika anda berada di bagian belakang barisan kemudian anda tergelincir maka anda akan membuat teman-teman didepan anda ikut tergelincir pula.
Tapi ini yang saya sebut takdir Tuhan, teman saya yang berjalan paling depan lah yang paling sering tergelincir jadi ia tak membahayakan keselamatan orang lain.
Saya yang berada di urutan kedua barisan itu, meski sering terpeleset tapi untunglah tak membuat orang di depan saya ikut terpeleset bersama saya dan yang berada di barisan paling belakang pun saya rasa tak pernah terpeleset tapi entahlah saya tidak terlalu memperhatikannya.
Inilah yang saya sebut perjalanan 300 meter yang ekstrem itu
Hahaha…. Mungkin masih banyak lagi cerita yang belum saya urai, atau bahkan mungkin tak bisa saya urai satu persatu tapi yang pasti saya bersyukur pada Tuhan yang membuat hati saya tertarik dan jatuh cinta pada KPP Tarsius, karena telah mengajarkan banyak pemahaman pada pikiran saya, menjawab semua pertanyaan-pertanyaan saya, dan memberi sesuatu yang selama ini belum saya temukan setelah saya tamat dari SMA, keluarga…..
0 comments:
Post a Comment