Pa…..
Ingatkah tentang dongeng-dongeng yang selalu kau ceritakan tiap sore dihalaman depan rumah kita?
Saya selalu protes sini sana, memotong jalan cerita
Saya tak percaya pak belalang segitu pintarnya membodohi raja begitu rupa
Saya tak terima kalau kancil selalu saja berhasil memperdaya sang penguasa rimba
Saya tak suka akhir ceritanya selalu bahagia, karenanya saya selalu mengganggu setiap cerita dan banyak bertanya
Pa..
Ingatkah hari saat pertama kali saya bisa membaca
Dan hadiah buku dongeng pertama
Yang setelahnya berlanjut dengan paksaan membeli setiap edisinya
Saya tahu tak selalu cukup uang di sakumu membelikan semua buku yang saya minta
Tapi saya adalah anak paling bahagia karena tak sekalipun engkau menepis setiap keinginan saya.
Pa….
Ingatkah tentang potongan puzzle tua yang selalu kita susun bersama
Bidak-bidak catur mu yang saya jadikan pasukan perang Namrud
Dan tentu saja gambar-gambar istana-istana dan hewan negri dongeng yang memenuhi kertas kerja papa saat saya bisa menggambar pertama kalinya
Pa…
Ingatkah saat kita berdebat soal Khidir dan Musa
Tentang kapal yang sengaja dirusak
Dan kenapa Khidir tak langsung saja mengajari Musa,
Saat itu saya bertanya, kenapa mengajari orang harus berbelit-belit segala
Kenapa mengungkap kebijaksanaan butuh waktu dan Musa harus menunggu beberapa lama
Pa…
Ingatkah tentang kemarahan pertamamu pada saya
Lalu beberapa waktu kita saling diam dan tak bicara
Tapi saya tak tahan dan setelahnya menangis seharian mengadu pada mama
Tak berani meminta maaf pada papa
Pa…
Ingatkah tentang pertengkaran pertama kita
Saya tak tahan menghadapi genangan kecil di merah matamu
Dan barangkali kau juga tak sanggup menghadapi kekerasan hati saya
Pa…
Ingatkah saat deras hujan dan kasar angin malam,
Engkau memaksa mengantar saya belajar kerumah guru matematika dan fisika
Menyemangati agar saya tak menyerah pada rentetan remedial pelajaran yang saya tak suka
Dan engkau bersikeras menunggu diluar halaman rumah gurunya, karena khawatir mengganggu saya yang setengah hati belajar dan kebanyakan mengantuk saja
Pa…
Ingatkah hari-hari dimana kita semakin sering saja bertengkar dan berselisih paham
Saya kesal, papa kesal, kita sama-sama kesal dan merasa begitu berbeda
Lalu untuk waktu yang lebih lama kita tak lagi saling bicara
Pa…
Ingatkah saat engkau dan mama menemani saya yang sakit dan terus-terusan menangis sepanjang malam seperti seorang bayi, dan tak sedetikpun engkau melepaskan genggamanmu dari tangan dan dahi saya….
Lalu saya meminta maaf untuk semuanya dan kau hanya tersenyum dan bicara sedikit saja,
“tidak apa-apa tika…”
Pa…
Ingatkah ketika papa diam-diam membaca diary dan setiap tulisan saya, impian-impian saya, protes-protes saya yang tak cukup berani secara lisan saya sampaikan.
Saya tau papa membaca semuanya
Saya pura-pura tidak tahu kalau papa juga tahu
Papa pura-pura tidak tahu bahwa saya telah tahu
Dan kitapun saling pura-pura, tahu sama tahu... (haha)
Pa…
Kita tak lagi bertemu sesering dahulu
Mungkin saya tak selalu menelpon
Tidak semuanya selalu saya bicarakan
Tapi entah kapan pasti akan saya ceritakan
Pa….
Tak sering saya bilang betapa sayang saya pada papa
Betapa khawatir saya pada papa
Betapa ingin saya melihat papa tersenyum bangga karena saya
Betapa saya selalu rindu dan ingat papa setiap harinya
Pa…
Hari ini saya tak memberikan hadiah apa-apa
Tidak kado, tidak ucapan lewat pesan singkat
Apalagi beberapa menit telpon untuk ucapan selamat
Tapi papa,
Hari ini saya menulis, semuanya tentang papa dan saya
Setelah papa membacanya, tak usah sedih jika ingat saya
Tak usah begitu khawatir pada saya…
Pa..
Saya mau bilang,
Sederhana saja, diiringi sebuah do’a kecil rahasia,
Selamat ulang tahun papa…….

0 comments:
Post a Comment