(Repost) Catatan Kecil Buat Tika
Hampir setahun tulisan ini dibuat.
Bulan Juni kali ini, aku akan memberimu apa ya tika? hehehe...
Kepada Hatika,
satu-satunya adik yang tak pernah memanggil uni, tentu saja.
Sore ini, di depan layar komputer, saya sengaja duduk berlama-lama.
Sedang berusaha menulis, Hatika.
Setelah sekian lama.
Tentu saja hari ini saya sedang tak punya uang untuk membeli kado untuk kamu.
(Ah….sepertinya memang saya belum pernah membelikanmu kado)
Saya takut untuk meminjam uang kepada teman.
Maka saya hanya memberi kamu janji. Sekali lagi.
Saya dibawa arus nostalgia, mengingat-ingat kita,
Kita yang sering bertengkar karena berbagai perkara.
Kamu yang begitu mudah kutipu,
sekarang malah selalu menebak isi kepala saya dengan jitu.
Saya penasaran, kamu belajar apa sih di universitasmu?
Kamu semakin terlihat makin bijak setiap hari.
Tapi ini bukan “bijak” yang sering nenek kita katakan tentang perangaimu waktu kita kecil dulu.
Iya…meski waktu berlalu,
Tapi satu yang sedari dulu tidak berubah,
Usia kita bertambah, badanmu mengurus,
Keriput saya menjelas,
Kenangan datang dan terbang,
Kamu selalu ada untuk saya.
Tangis,tawa, kecewa, bahagia, marah, kamu selalu menemani.
Mulai dari jatuh cinta hingga patah hati, kemudian jatuh cinta lagi.
Lalu patah hati lagi.
Maka saya katakan dengan agak malu hari ini
(Sama seperti saya yang juga selalu malu dan tak pernah mau untuk mengangguk iya kalau kamu berujar “aku terlihat cantik kan”)
Saya akan selalu ada untuk kamu.
Jadi kamu juga boleh bercerita tentang laki-laki asing yang sudah memperlakukanmu seperti keluarga pada saya. (Hahaha…)
Selamat ulang tahun,
Perempuan yang suka tidur dini hari.
Selamat menjadi 21 di tanggal 19 kali ini.
Mungkin ini kado pertama dari saya.
Janji dalam tulisan sederhana yang akan kau bilang di dalamnya terlalu banyak kata direpetisi.
*Mungkin
kapan-kapan saya akan mengajak kamu ke padang rumput yang luas. Disana
kita bisa menatap kaki langit sepuas-puasnya sambil bermain
seletih-letihnya layaknya dulu di masa kanak-kanak kita.
Kapan-kapan
saya juga berencana membawamu dalam perjalanan mendaki sebuah gunung.
Semoga kamu kuat ya, karena mungkin kegelapan dan dingin akan menyiksa
kita. Saat tiba di puncaknya, saya akan membiarkanmu melihat negeri awan
seperti yang ada dibuku dongeng yang sering kita rebutkan dulu.
Sesekali sambil memotretmu.
Yah..kapan-kapan….
0 comments:
Post a Comment